Suasana di kelas siang itu terlihat ramai. Tampak beberapa anak usia SD hilir mudik bersenda gurau dengan teman-temannya. Cuaca yang panas membuat suasana menjadi semakin riuh rendah, sungguh tak kondusif untuk belajar. Namun itu tak menyurutkan semangat sang gur di kelas itu, Yunda Fitrian. Dengan sabar namun tegas ia mencoba menenangkan anak-anak sambil terus mengajar mereka. ”Yah beginilah suasana di kelas sehari-hari, kita harus ekstra sabar dan telaten menghadapi mereka,” ujarnya saat ditemui tim Baznas seuasai mengajar di sekolah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Masjid Terminal Depok.
Memang, suasana belajar di Sekolah Masjid Terminal berbeda dengan sekolah umum lainnya. Sekolah Masjid Terminal atau yang lebih dikenal dengan singkatan Master ini adalah sekolah gratis yang memang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga dhuafa. ”Jadi tak heran banyak anak-anak yang bersekolah di Master adalah anak-naka jalanan atau anak-anak terminal yang seringkali sulit diatur,” jelas wanita kelahiran 22 tahun lalu ini.
Sekolah Masjid Terminal Depok atau yang bernama resmi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Depok ini mengajarkan program Paket A, paket B dan Paket C serta berbagai kursus secara gratis kepada masyarakat. Kegiatan ini dilakukan oleh Yayasan Bina Insan Mandiri, salah satu Unit Salur Zakat (USZ) Badan Amil Zakat Nasioanl (Baznas) sejak 2006 lalu. Bermula dari pengajaran yang dilakukan di masjid terminal Depok, kini di sekitar masjid tersebut sudah didirikan beberapa ruang kelas non-permanen untuk kegiatan belajar mengajar dari bantuan beberapa donatur.
Terlanjur Cinta
Menjadi guru relawan jelas merupakan pilihan bagi Yunda. Lulus dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, sebetulnya ia memiliki banyak pilihan pekerjaan mentereng di hadapan mata. Sebagai guru relawan, ia tak mendapatkan gaji kecuali dana transport sekadarnya. Berbeda jika ia memilih bekerja sebagai guru di sekolah swasta ternama. ”Saya merasa bisa memberi arti dengan mengajar di sini,” ketika ditanya alasannya. Meski tetap diakui, mengajar di sekolah masjid terminal relatif lebih sulit dibandingkan mengajar di tempat lain. ”Siswa-siswanya lebih agresif dan sulit menerima pelajaran,” jelasnya. Tetap saja, Yunda, yang sudah mulai memgajar sejak kuliah di semester III di beberapa lembaga kursus ini tak patah arang. ”Saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan mereka dan saya yakin mereka akan bisa sukses asal kita rajin dan sabar” jelasnya yakin.
Mungkin, ini ketelatenan yang sudah dibawanya sejak masih bersekolah di SMU 2 Tangerang beberapa tahun lalu yang menggiringnya memilih masuk ke Fakultas Psikologi UI. ”Teman-teman banyak yang merasa terbantu saat mendiskusikan masalah mereka dengan saya sehingga saya terpacu memilih fakultas psikologi untuk membantu orang lain dengan solusi yang tepat,” jelas dara yang masih nge-kost di kawasan Margonda ini.
Harapan ke Depan
Bicara tentang harapan ke depan, Yunda berharap sarana di sekolah masjid terminal ini dapat dilengkapi. ”Kami membutuhkan perlatan mengajar maupun ruang perpustakaan yang lebih lengkap,” jelasnya. Yunda juga berharap Baznas dapat memberikan pelatihan metode pengajaran kepada guru-guru di sekolah Terminal tersebut mengingat tidak semua guru berlatar belakang pendidikan keguruan maupun psikologi. ”Sehingga belum terlalu tahu metode pengajaran yang tepat,” jelas Yunda. Semoga ke depan, semakin banyak Yunda-Yunda lain di tempat tersebut dan semakin banyak muzakki yang tergerak untuk berkontribusi memajukan sekolah terminal tersebut. Amiin. (ful)
Untuk informasi lebih lanjut tentang program bantuan pendidikan Baznas dapat menghubungi Saudara Sugeng Riyanto di no.telp 021-3904555